Menyempurnakan Komitmen Pernikahan

Bulan haji memang sudah lewat. Banyak pasangan telah melangsungkan pernikahan. Kini, di awal-awal menjalani biduk rumah tangga, banyak penyesuaian harus dilakukan. Ya, ketika ijab qabul dikumandangkan di depan wali, sebenarnya yang bersatu bukanlah sekadar jasad dua makhluk berlainan jenis. Terjadi pula pertemuan dua pemikiran, dua tujuan hidup dan perkawinan dua pribadi dengan tingkat keimanan masing-masing. Karena itu, penyatuan pemikiran dan idealisme akan menyempurnakan pertemuan fisik kedua insan. Nah, agar penyatuan itu berlangsung maksimal, hendaknya perhatikan hal-hal berikut:


Karakter bawaan tiap individu, banyak dipengaruhi nilai-nilai yang diyakini serta perilaku  lingkungan terdekat. Mengenal secara jelas karakter pasangan hidup adalah bekal utama dalam upaya penyesuaian, penyeimbangan dan bahkan perbaikan. Butuh kesabaran selama proses itu berlangsung sebab hal itu membutuhkan waktu tak sebentar.

Sikap rahmah (kasih sayang) kepada pasangan hidup dan anak-anak merupakan tulang punggung kelangsungan keharmonisan keluarga. Rasulullah SAW menyapa Aisyah dengan panggilan yang memanjakan, dengan gelar yang menyenangkan hati. Bahkan beliau membolehkan seseorang berdiplomasi kepada pasangan hidupnya dalam rangka membangun kasih sayang. Suami atau istri harus mampu menampilkan sosok diri dan pribadi yang dapat menumbuhkan rasa tenteram, senang dan kerinduan. Ingat, di atas rasa kasih sayanglah pasangan hidup dapat membagi beban dan meredam kemelut.

Islam dengan tegas telah melimpahkan tanggung jawab nafkah kepada suami tanpa melarang istri membantu beban ekonomi suami jika kesempatan dan peluang memang ada. Dan tentu, selama masih berada dalam batas-batas syariah. Di tengah-tengah tanggung jawab dakwahnya, suami harus bekerja keras agar dapat memberikan pelayanan fisik kepada keluarga. Sedangkan qanaah alias bersyukur atas seberapa pun hasil yang diperoleh adalah sikap yang patut ditampilkan istri. Persoalan-persoalan teknis yang menyangkut pengelolaan ekonomi keluarga dapat dimusyawarahkan dan dibuat kesepakatan antara suami dan isteri. Kebahagiaan dan ketenangan akan lahir jika di atas kesepakatan tersebut dibangun sikap amanah (benar dan jujur).

Meski ajaran Islam menjabarkan dengan jelas fungsi dan tugas elemen keluarga (suami, isteri, anak) namun dalam pelaksanaannya tidaklah kaku. Jika Rasulullah SAW menyatakan bahwa seorang istri adalah pemimpin bagi rumah dan anak-anak, bukan berarti seorang suami tidak perlu terlibat dalam pengurusan rumah dan anak-anak. Ajaran Islam tentang keluarga adalah sebuah pedoman umum baku yang merupakan titik pangkal segala pemikiran tentang keluarga. Dalam tindakan sehari-hari, nilai-nilai lain, misalnya tentang itsar (memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain), ta'awun (tolong menolong), rahim (kasih sayang) dan lainnya juga harus berperan. Itu dapat dijumpai dalam riwayat yang sahih betapa Nabi SAW bercengkrama dengan anak dan cucu, menyapu rumah, menjahit baju yang koyak dan lain-lain.

Rutinitas sehari-hari kerap membawa kejenuhan, stres dan kepenatan. Padahal, manusia bukanlah robot mati rasa. Manusia punya perasaan dan otak yang dapat mengalami kelelahan. Nabi SAW pun mengeritik seseorang yang menamatkan Alquran kurang dari tiga hari, yang menghabiskan waktu malamnya hanya dengan shalat, dan yang berpuasa setiap hari. Karena itu, variasi aktivitas dibutuhkan manusia agar jiwanya tetap segar. Keluarga bahagia tak akan tumbuh dari kemonotonan aktivitas keluarga. Sekali-kali butuh rekreasi, obrolan santai penuh canda, diskusi-diskusi ringan, atau sekadar belanja bersama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar