warisan

Dari Abu Huroiroh r.a. bahwasanya dia melewati pasar Madinah, lalu dia berhenti di sana dan berkata, ”Wahai penghuni pasar, betapa lemahnya kalian!”
Mereka bertanya, ” Apa maksudmu ya Abu Huroiroh?”
Abu Huroiroh menjawab, ” Itu warisan Rasulullah SAW sedang dibagikan sementara kalian masih di sini. Mengapa kalian tidak pergi ke sana untuk mengambil jatah kalian?”
Mereka bertanya, ”Dimana?” 
Abu Huroiroh menjawab, ”Di masjid.”
Maka mereka keluar dengan cepat, sementara Abu Huroiroh berdiri menjaga barang mereka sampai mereka kembali.
Abu Huroiroh bertanya, ”Ada apa dengan kalian?”
Mereka menjawab, ”Ya Abu Huroiroh, kami telah datang ke masjid, maka kami masuk ke dalamnya tetapi tidak ada yang dibagi.”
Abu Huroiroh berkata, ”Apakah kalian tidak melihat seseorang di masjid?”
Mereka menjawab, ”Ya kami melihat orang-orang yang sholat, orang-orang yang membaca alquran dan orang-orang yang mempelajari halal dan haram.
Abu Huroiroh berkata, ”Celaka kalian, itulah warisan Muhammad SAW.”

(Diriwayatkan oleh at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath dengan sanad hasan).


Warisan, sebuah kata yang jamak diketahui orang. Bahkan darinya tersadur beribu cerita yang menggemparkan. Pembunuhan, pemutusan famili, permusuhan, pertengkaran dan sejuta kisah sedih lainnya, selain juga ada cerita bagusnya tentunya. Namun sepanjang sejarah kehidupan manusia, kisah sedihnyalah yang banyak tercatat, bukan kisah baiknya.

Umumnya orang mengkaitkan warisan dengan harta benda. Warisan terkait erat dengan keduniaan. Tanah, rumah, kendaraan, emas dan bentuk lain yang dalam bahasa sekarang disebut modal. Tak usah jauh-jauh, kisah jaman sahabat di atas telah menunjukkan dengan jelas bahwa orientasi warisan itu berupa kebendaan. Padahal hakikatnya ada bentuk lain dari sebuah warisan, yaitu ilmu. Dan kita tahu bahwa warisan para Nabi tak lain adalah ilmu. Barang siapa yang mengambil ilmu berarti dia telah mengambil bagian yang sempurna lagi melimpah. Seperti apakah potret kekinian?

Sudah semakin jarang kita jumpai tipikal seseorang seperti Abu Huroiroh. Kata yang tepat mungkin langka. Orang yang berani dengan lantang berteriak mengajak kebaikan di depan orang banyak. Hanya orang-orang khusus, berpredikat istimewa yang mampu melakukannya. Bahkan pada anak sendiri, kerabat, handai taulan kadang lebih banyak tak teganya, toleransi, daripada bersikap mengajak.

Kalau tidak ada yang mengajak pun, seharusnya kita gemruduk – berbondong-bondong, merebut warisan para Nabi tersebut. Apalagi kita tahu bahwa itu adalah sebenar-benarnya warisan. Bukankah kita senang dan bahagia apabila mendapat warisan yang banyak? Tetapi kenapa justru kita banyak menghindar dan bahkan banyak yang hanya menyisakan waktu dalam hidupnya ini untuk sebuah warisan yang begitu dahsyatnya. Kenapa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar