Kiat Mempertahankan Keharmonisan Para Madu

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengutus prajurit-prajuritnya. Utusan yang terdekat kedudukannya kepada Iblis adalah yang paling hebat menimbulkan fitnah (di antara manusia). Salah satu dari prajurit itu datang kepada Iblis dan berkata, ‘Saya telah melakukan ini dan ini.’ Iblis berkata, ‘Engkau belum melakukan apa pun.’ Kemudian datang yang lain dan berkata, ‘Sungguh aku tidak meninggalkannya sampai aku berhasil memisahkannya dari istrinya. ’ Maka Iblis pun mendekatkan prajurit tersebut kepadanya dan berkata, ‘Kamu hebat.’.” (HR. Muslim no. 2813)

Banyak rumah tangga poligami yang pada awalnya penuh dengan keindahan, perlahan memudar keharmonisannya seiring dengan perjalanan waktu. Ini bukan hanya terjadi pada mereka yang memulai rumah tangga poligami secara tidak sehat. Yang saya maksud tidak sehat ini, adalah poligami yang di awal perjalanannya sudah dihadapkan dengan konflik dan situasi tidak bagus, baik karena bermula dari perselingkuhan, penolakan istri terdahulu, maupun dari keluarga. Bahkan poligami yang di awalnya tidak bermasalah sekalipun, tak sedikit yang dalam perkembangannya tumbuh konflik di sana-sini.



Sebagai orang yang aktif dalam dunia dakwah, sering menjadi tempat curhat (baca: konsultasi) serta berdiskusi dalam salah satu grup poligami di facebook, saya dan istri banyak menerima curhat dari mereka yang berpoligami, diantaranya soal para istri yang berkonflik dengan madunya. Bahkan konflik tersebut ada yang sampai berujung pada perceraian, baik yang diceraikan adalah istri istri terdahulu (kakak madu) maupun yang  tergusur dari kehidupan sang suami adalah istri selanjutnya.

Pada sebagian kasus, saya dan istri mengenal para madu yang berkonflik atau sedang memiliki hubungan kurang baik. Mereka sama-sama berkonsultasi kepada istri saya dengan keluh kesah dengan persepsi masing-masing soal konflik yang terjadi.
Dari curhat beberapa pihak yang ‘berseberangan’ tersebut saya menemukan bahwa umumnya konflik itu terjadi adalah karena hal-hal berikut:

  1. Terjadi salah faham karena praduga negatif (su’udzon)
  2. Mudahnya terjadi ketersinggungan (perasaan yang terlalu sensitif)
  3. Adu domba pihak luar
  4. Akhlak sebagian istri yang buruk.
Namun dari 4 penyebab utama tersebut, persoalan akhlaq buruk istri/madu sangatlah sedikit, karena pada umumnya wanita-wanita yg merelakan dirinya dipoligami adalah wanita-wanita yang memiliki pegetahuan dan pemahaman agama yang lumayan baik. Kami melihat bahwa 3 faktor lainnyalah yang mendominasi penyebab permasalahan di  dalam rumah tangga ta’addud (poligami) ini.

Maka, berdasarkan pengalaman tersebut, izinkan kami memberikan sedikit tips tentang bagaimana menjaga kelanggengan hubungan terutama antar madu dalam rumah tangga poligami. Apa yang kami sampaikan ini mungkin belum bisa menjawab semua permasalahan yang ditemui dalam kehidupan poligami, namun paling tidak ini adalah persoaln mendasar yang sangat berpengaruh.

1. Jadikan Allah benar-benar sebagai Hakim tertinggi
Bagaimanapun juga Tauhid atau keimanan adalah hal paling mendasar dalam hidup seorang Muslim. Sebagai muslim, baik dia menjalani rumah tangga monogami (RTM) maupun Rumah Tangga Poligami (RTT) tetaplah dia wajib menjadikan aqidah tauhid sebagai pondasi segala hal dalam kehidupannya.

Maka dengan memantafkan aqidah tauhid dan penghambaan kita hanya kepada Allah, kita akan menjadi manusia yang menjadikan Allah sebagai Rabb tempat kita menyembah, mentaati segala ketentuannya, menerima taqdirnya dan mengembalikan segala permasalahan kepadanya, termasuk dalam hal permasalahan poligami.

Prinsip  ini akan berlanjut kepada kecintaan yang dalam hanya kepada-Nya. Apapun kemudian bentuk kecintaan dan kasih sayang kita kepada manusia, maka semua adalah dalam rangka cinta sejati kita kepada-Nya. Inilah yang bisa mendatangkan kebahagiaan hakiki dan membuat kita tak terlalu bergantung kepada manusia termasuk pada suami yang mungkin saat ini tengah berada di ‘pelukan’ madu kita.

Demikian pula, dengan kecintaan kepada Allah, membuat kita tak pernah merasa khawatir dengan gangguang hingga ketidak adilan yang mungkin saja dilakukan oleh mahluk termasuk dari suami dan madu kita. Rasulullah bersabda:
Barangsiapa mengutamakan kecintaan Allah atas kecintaan manusia maka Allah akan melindunginya dari beban gangguan manusia. (HR. Ad-Dailami)

2. Jadikan suami benar-benar sebagai imam dan pemimpin yang dipatuhi.
Para pejuang gender mungkin akan sangat tidak setuju dengan konsep ini. Namun sebagai muslimah yang hanya mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala, kita telah diperintahkan-Nya untuk tunduk dan ta’at kepada suami. Selama suami tidak memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah, maka tidak ada alasan untuk kita menolaknya.

Dari Husain bin Muhshain dari bibinya berkata: “Saya datang menemui Rasulullah SAW. Beliau lalu bertanya: “Apakah kamu mempunyai suami?” Saya menjawab: “Ya”. Rasulullah SAW bertanya kembali: “Apa yang kamu lakukan terhadapnya?” Saya menjawab: “Saya tidak begitu mempedulikannya, kecuali untuk hal-hal yang memang saya membutuhkannya” . Rasulullah SAW bersabda kembali: “Bagaimana kamu dapat berbuat seperti itu, sementara suami kamu itu adalah yang menentukan kamu masuk ke surga atau ke neraka” (HR. Imam Nasai, Hakim, Ahmad dengan Hadis Hasan) dari sumber ini)

Misalkan, saat terjadi percikan konflik antar madu. Manakala suami menengahi dengan memberikan instruksi kepada para istri untuk menghentikan konflik, maka para istri yang ta’at kepada Allah dan menjadikan suami sebagai imam yang wajib dipatuhi, mereka segera mentaatinya. Yang kami maksud disini, tentunya jika konflik yang terjadi lebih dominan unsur perasaannya bukan karena persoalan pelanggaran syari’at yang berat.
Untuk pelanggaran syari’at yang ringan saja, misalkan terjadi seidikit ketidak adilan suami karena sebab-sebab tertentu, para muslimah yang qona’ah tentu akan memilih meredhokan nya dan mengharap balasan pahala dari Allah saja daripada menuntut haknya secara berlebihan. Karena tak mustahil di lain waktu suami kitapun bisa saja membuat kesalahan dan ketidak adilan kepada madu kita disebabkan oleh diri kita sendiri.

3. Berikap Sabar dan memperbesar KEMAKLUMAM
Boleh jadi kita sebenarnya berada pada posisi yang benar. Tapi jika kita memiliki kesabaran tidak lantas kita memanfatkan posisi kita tersebut untuk menuntut keadilan secara berlebihan, apalagi sampai melakukan pembalasan kepada madu dan suami.
Kita harus memperbanyak KEMAKLUMAN. Artinya memperbesar sikap kurang lebih. Karena kita sadar bahwa selain sikap itu akan mendatangkan pahala yang besar, kecintaan Allah, suami dan madu, kitapun akan selalu membutuhkan KEMAKLUMAN dari orang lain. Kita bukan manusia yang sempurna yang selalu benar, tak mustahil di lain waktu kitalah yang berada di pihak yang salah, meski sekecil apapun kesalahan tersebut.

Kemakluman yang besar ini akan tumbuh manakala kita membiasakan husnudzan (baik sangka) antar anggota keluarga terutama sesama madu, menjaga kesabaran, suka memaafkan kesalahan orang lain, bersikap rendah hati dan mengurangi ego kita.
Dengan kesabaran kita akan selalu menatap kehidupan rumah tangga kita dengan tatapan optimis, karena kita yakin semua kondisi dalam rumah tangga kita akan mendatangkan kebaikan saat kita menerimanya dengan penerimaan yang baik.


Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan  mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani)

Salah satu cara agar kita memiliki kemakluman dan tak berburuk sangka kepada sesama madu, adalah dengan tidak berupaya memata-matai madu kita terutama saat suami berada di rumah mereka. Sebab bisa dipastikan dari semua aktifitas suami saat berada di rumah madu, ada banyak hal yang bisa bisa menumbuhkan kecemburuan dan kedengkian, dimana jika kita mengetahuinya bisa menimbulkan api konflik yang menggelora. Sungguh benar sabda Rasulullah berikut ini:
Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. (Shahih Muslim No.4646)

4. Perkecil masalah besar dan jangan suka membesar-besarkan masalah kecil.
Masalah akan selalu datang dalam semua  hubungan dalam kehidupan ini, terlebih dengan suami dan para madu yang interaksi emosional sangat dominan di situ. Apalagi setiap kita memiliki isi pikiran yang tak mungkin akan sama 100%. Satu atau dua  hal pasti akan berbeda dan perbedaan itu dapat menimbulkan benturan-benturan. Bisa jadi benturan itu ringan atau kecil, tapi bisa jadi pula benturan itu sedemikian berat dan kuatnya. Dari benturan ini jelas ada pihak yang tersakiti, bisa diri kita, bisa para madu, dan kebanyak semuanya.
Maka memperkecil masalah besar dan tidak membesar-besarkan masalah kecil adalah hal yang ‘wajib’ untuk kita lakukan. Semua anggota rumah tangga poligami harus menanamkan kebiasaan ini hingga menjadi sikap hidup mereka. Jika tidak, maka jangan harap rumah tangga POLIGAMI akan harmonis, mengingat sebagaimana saya sebutkan di atas, bahwa semua hubungan pasti mengalami benturan.

Maka jika iblis mengipas-ngipas hati hingga memanas, lalu api cemburu mulai berkobar. Masalah yang kecil bisa menjadi besar. Hal sepele akan terlihat seolah sangat prinsip. Sebab itu kita harus selalu waspada agar Iblis tak mampu mengompori rasa cemburu dan menumbuhkan bibit-bibit kedengkian yang ada di dalam hati kita.

“ Dan katakanlah, “ Ya Rabbku, aku berlindung (pula) kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaithan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Rabbku agar mereka tidak mendekati aku.” (QS. al-Mu’minun : 97-98)

Demikian sedikit tips yang mudah-mudahan bisa membantu merekatkan kembali hati-hati pelaku poligami yang mulai retak, juga menyambung kembali ikatan silaturrahim yang mulai putus. Sedangkan bagi yang masih baru merasakan indahnya madu poligami, semoga dapat tetap waspada. Ingatlah bahwa di tengah semangat menghidupkan sunnah yang mungkin saat ini menggelora di dada kita, iblis tengah mengincar kelengahan kita untuk menebarkan bibit-bibit permusuhan dan perpecahan.

Boleh jadi saat kita kuat-kuatnya berpegang dalam buhul keimanan dan kepasrahan kepada syari’at Allah, saat itu pula si teroris cinta, Iblis laknatullah alaih tengah mengatur strategi untuk meruntuhkan benteng aqidah kita, merusak pondasi niat kita dan menyiapkan jalan licin agar kita tergelincir pada hawa nafsu yang tak sejalan dengan al-Qur’an dan Sunnah.
Labih berbahaya lagi kala jerat-jerat iblis itu dia samarkan dengan hiasan-hiasan yang terlihat indah. Perilaku kita yang makruf sekalipun tak mustahil kemudian dihiasi oleh iblis dan pasukannya dengan hal-hal yang negatif. Lantaran kita terlalu bersemangat dalam menjalankan agama bisa saja menjadi pintu masuk bagi iblis untuk mengaduk-aduk hati kita dan madu kita hingga konflik kemudian mucul. Dengan cara ini, kadang iblis bisa memelesetkan hati kita yang semua berniat baik, tulus dan ikhlas menjadi mengarah pada kedengkian dan permusuhan.

Seorang wanita yang sangat perhatian kepada madunya misalkan, bisa saja membawa dampaak yang kurang baik manakala si madu merasa perhatian itu bukan sebagai sebuah perhatian, namun sebagai bentuk interpensi atas kehidupan dirinya. Perhatian besar dari seorang kakak madu bisa saja dianggap bentuk penampakan otoritas di mata adik madu.
Atau sebaliknya, seorang wanita yang tak berani turut campur dengan urusan rumah tangga madunya, bisa saja ditafsirkan oleh si madu sebagai bentuk ketidak pedulian terhadap si madu. Bahkan bisa ditafsirkan sebagai upaya memutus tali silaturrahim. Padahal si madu sendiri justeru  melakukan itu karena menghargai hak-hak pribadi madunya.
Maka untuk mengantisipasi semua itu sekali lagi…. perlu memperbanyak baik sangka, memperbesar kemakluman dan mempertinggi kadar keikhlasan serta ketaatan kepada suami. Dan yang terpenting jadikan Allah sebagai tempat kita mengembalikan segala persoalan. Jadikan kecintaan kepada-Nya di atas segala-galanya.

Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?” Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar